Mendorong Arah Pembangunan Logistik Berdaya Saing

Mendorong Arah Pembangunan Logistik Berdaya Saing

SEIRING implementasi industri 4.0, Indonesia kini tengah memasuki momentum yang mendesak untuk meningkatkan daya saing industri nasional tak terkecuali di industri rantai pasok (supply chain) dan logistik.

Suply chain merupakan system yang saling bergantung dan melibatkan beberapa hal yakni; seluruh pemikiran berantai, tenaga kerja, minyak dan energi alternative, transportasi, logistik, keuangan dan sistem pembiayaan, proses bisnis, sistem transaksi, teknologi Informasi, dan pembelian.

Selain itu yang berhubungan dengan manajemen rantai pasokan, kekuatan komersial, sistem hukum dan peraturan, manusia dan jejaring, investassi asset strategis dan yang terakhir adalah ekonomi geo-politik.

Biaya logistik di Indonesia masih tinggi, dimana pada tahun 2018 mencapai 23,7% terhadap GDP, dan diperkirakan untuk tahun 2019 (sampai akhir tahun) sekitar 22,3?.Porsi biaya logistik juga menyumbang sekitar 40 persen dari harga ritel barang.

Indonesia tengah memasuki momentum yang mendesak untuk meningkatkan daya saing industri nasional tak terkecuali di industri rantai pasok (supply chain) dan logistik yang diharapkan melalui produktivitas bisa berdaya saing tinggi, mata rantainya baik sehingga biaya logistik bisa dibawah 20%.

Malaysia dan Thailand sudah dibawah 15%. Oleh karena itu, stakeholder, swasta, dan industri harus kerja keras apalagi 2020 era industri 4.0 akan dimulai.

Revolusi Industri 4.0 adalah industri generasi keempat yang telah dibuatkan peta jalan (road map) oleh Pemerintah Indonesia dalam rangka menuju Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia pada 2030 melalui pemanfaatan teknologi berbasis digital yang menjadikan proses operasional kerja dan layanan pelanggan lebih murah, mudah dan berdaya saing.

Seperti ditunjukkan dengan berkembangnya bisnis berbasis online yang maju pesat sehingga mampu mengundang investor korporasi besar dunia untuk berinvestasi, khususnya di sektor layanan transportasi online.

Milestone revolusi industri 4.0 meliputi kemunculan bagian baru dalam organisasi dan pengendalian siklus produk, meliputi semua fase dari ide dan kebutuhan pengembangan produksi, pengiriman produk ke pelanggan, daur ulang dan layanan jaringan, integrasi horisontal dengan value-added networks.

Sebagai model bisnis di era internet dapat digambarkan dari bookstore ke e-book, dari yellow pages ke marketplace, dari record store ke streaming, dari taxi ke ride-sharing.

Empat negara yang menempati top commerce yakni: mexico, dengan pertumbuhan 59% per year, pengeluaran untuk online shopping USD 16.22 Billion; Colombia, dengan pertumbuhan 45% per year, pengeluaran untuk shopping USD 5.2 Billion; Philipines, dengan pertumbuhan 51% per year, pengeluaran untuk shopping USD 1.6 Billion; kemudian Indonesia , dengan pertumbuhan 78% per year, pengeluaran untuk shopping USD 7.62 Billion.

Regulasi di Indonesia

Saat ini Pemerintah tetap memproteksi pengusaha logistik nasional seiring kian terbukanya alur investasi di dalam negeri dan sejumlah deregulasi yang dikeluarkan pemerintah.

Dinegara manapun usaha nasionalnya dilindungi oleh pemerintah. Oleh karena itu diharapkan Pemerintah lebih cepat merespon atas perubahan yang banyak di bidang logistik khususnya rantai pasok.

Regulasi yang berlaku di Indonesia antara lain; Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map E-Commerce) Tahun 2017-2019.

Kemudian,Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2012 Tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional merupakan panduan dalam pengembangan logistik bagi para pemangku kepentingan terkait serta koordinasi kebijakan dan pengembangan Sistem Logistik Nasional.

Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional berfungsi sebagai acuan bagi menteri, pimpinan lembaga non kementerian, gubernur, dan bupati/walikota dalam rangka penyusunan kebijakan dan rencana kerja yang terkait pengembangan Sistem Logistik Nasional di bidang tugas masing-masing, yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah non kementerian dan pemerintah daerah sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan.

Kebijakan Pusat dengan Daerah harus dapat selaras dan saling memberikan kepastian dalam memudahkan serta* *memperlancar kegiatan usaha terutama terkait daya saing logistik.

Pengelolaan

Logistik merupakan bagian penting yang mencakup perencanaan, pengaturan dan pengendalian arus barang, informasi, pemeliharaan, penghapusan, dan sumber daya lain suatu perusahaan dari hulu ke hilir.

Bagian ini merencanakan penyediaan barang yang harus ada di gudang yang kemudian dikirimkan kepada pembeli. Selain itu juga berfungsi memelihara barang agar selalu dalam kondisi yang baik dan layak pakai.

Logistik menjadi salah satu bagian terdepan di dalam suatu bisnis. Logistik ini mengatur sistem pengeluaran, pemasukan, pengemasan dan penyimpanan barang, hingga penghapusan suatu barang.

Rencana pengiriman barang di logistik berkaitan erat dengan bagian sistem analis, route planner, bagian operasional atau istilah lain yang sama-sama merencanakan pengiriman dengan mempertimbangkan kapasitas dan jenis kendaraan yang dimiliki, tonase muat serta model ruang muatan kendaraan disesuaikan dengan berat, ukuran serta jenis barang dan juga jarak tempuh transportasinya.

Ruang lingkup utama dari layanan logistik adalah untuk mendukung manufaktur dan distribusi barang. Biasanya gambaran sistem logistik yang dijalankan oleh suatu negara dapat mencerminkan kinerja daya saing ekonomi negara tersebut.

Oleh karenanya, peran manajemen logistik sangat penting dalam suatu Negara.
Saat ini di indonesia belum memiliki sebuah Badan atau Kementerian khusus yang bertanggung jawab secara independent dan memiliki kemampuan meng-integrasikan lembaga/kementerian terkait terhadap bidang logistik.

Untuk itu perlu dibentuk secara khusus dibawah pengawasan Presiden yang melibatkan berbagai unsur masyarakat yakni dari unsur akademisi maupun unsur praktisi untuk pengelolaan logistik Negara.

Konektifitas Asean

Peran Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) dalam pembenahan konektifitas logistik sangatlah besar. Melalui Asean Federation of Forwarders Association (AFFA) bersanding dengan 10 negara Asean memiliki konektifitas lebih dari 8.312 perusahaan diwilayah Asean.

Hanya Entitas yang Terkait dengan Sekretariat Asean yang mewakili sektor swasta Transportasi & Logistik. Anggota AFFA juga berpartisipasi aktif dalam mendukung kerangka kerja Asean dan fasilitasi contohnya adalah Perjanjian Kerangka Kerja Asean tentang Transportasi Multimodal, Transportasi Lintas Batas Penumpang dengan Kendaraan Jalan, Perjanjian Kerangka Kerja Asean tentang Fasilitasi Barang dalam Transit, Perjanjian Kerangka Kerja ASEAN tentang Fasilitasi Transportasi Antar Negara dan sebagainya.

Beberapa potensi bagi negara-negara Asean yaitu kekuatan ekonomi Asia ke-3 setelah Republik Rakyat Tiongkok (RRC) dan India, Populasi ke-3 Asia – pusat konsumsi setelah Republik Rakyat Tiongkok (RRC) dan India, membangun konektivitas tanpa batas adalah prioritas untuk menciptakan AEC dan terhubung dengan negara tetangga raksasa Republik Rakyat Tiongkok RRC & India.

Persaingan ekonomi global mengharuskan Asean karena suatu kawasan memiliki koridor transportasi alternatif di luar jalur yang ada untuk meningkatkan daya saingnya.

Dengan menghubungkan Asean melalui Master Plan on Asean Connectivity 2025, bersama AFFA menciptakan jaringan sumber daya manusia dan infrastruktur untuk meningkatkan cara kita hidup, bekerja, dan bepergian.

Pertama, adalah Infrastruktur Berkelanjutan. Untuk mempromosikan perjalanan, investasi, dan perdagangan lintas kawasan, Asean perlu meningkatkan investasi infrastruktur dan produktivitasnya secara signifikan.

Kedua, Seamless logistik,  dimana hampir setengah dari perdagangan laut dunia melewati Asean setiap tahun.

Oleh karena itu, meningkatkan daya saing logistik Asean sangat penting untuk mempertahankan pertumbuhan manufaktur yang kuat.

Ketiga, yang berhubungan dengan  inovasi digital. Komunikasi dan perdagangan tumbuh secara eksponensial lintas batas dan perangkat. Namun, kemajuan ini tidak terjadi pada kecepatan yang sama untuk semua komunitas di Asean.

Keempat, keunggulan regulasi. Serangkaian standar dan peraturan yang harmonis diperlukan bagi Asean untuk memastikan arus perdagangan dan investasi yang lancar.

Kelima, berkaitan dengan mobilitas manusia. Mempromosikan mobilitas manusia di kawasan ini dengan mendukung kemudahan perjalanan di seluruh Asean, mengurangi kesenjangan antara permintaan dan penawaran keterampilan kejuruan, dan meningkatkan mobilitas intra-Asean.

Indonesia harus memanfaatkannya secara Optimal di lingkup Asean terhadap kondisi kondisi tersebut, dalam hal ini ALFI telah melakukan inisiasi dan berperan aktif di lingkup Asean melalui wadah organisasi AFFA tersebut agar tidak jauh tertinggal terhadap kebijakan logistik di wilayah Asean.

Permasalahan lain yang dihadapi adalah bagaimana caranya Indonesia dapat bersaing dengan negara lain dengan memanfaatkan peluang-peluang bisnis yang ada .

Collaboration and commitment, Realtime and Traceable , Global Connected merupakan kata kunci dalam era sekarang mengingat Asean kini sebagai kekuatan ekonomi ke tiga di Asia setelah Cina dan India, dan juga kekuatan ekonomi ke enam di dunia.

Dengan penguatan kerjasama bidang logistik antar negara akan berdampak pada kegiatan logistik di dalam negeri maupun di tataran global. Berani memulai sesuatu yang mempunyai terobosan dan terbaik buat bangsa ini. ‘Have to be smart’.

(Penulis adalah Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia/ALFI, dan Chairman Asean Federation of Forwarders Association/AFFA)

http://beritakapal.com/mendorong-arah-pembangunan-logistik-berdaya-saing/

Share this Post: