DAYA SAING LOGISTIK : Inefisiensi Harus Bisa Dipangkas

DAYA SAING LOGISTIK : Inefisiensi Harus Bisa Dipangkas

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesisa meminta pembangunan ke depan berorientasi mengurangi inefisiensi biaya logistik mengingat daya saing industri nasional masih tertinggal dari beberapa negara kawasan regional lainnya.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanai menjelaskan seiring dengan implementasi 4.0 Indonesia kini memasuki momentum yang mendesak untuk meningkatkan daya saing industri nasioanl tak terkecuali di industri rantai pasok dan logistik.

Menurutnya, biaya logistik di Indonesia masih tinggi yakni 23,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40% dari harga ritel barang.

“Indonesia tengah memasuki momentum yang mendesak untuk meingkatkan daya saing industri nasional tak terkecuali di industri rantai pasok dan logistik,” paparnya kepada Bisnis, Minggu (20/10).

Dia mengharapkan melalui produktivitas dan pembangunan yang dilakukan dapat menghasilkan produk berdaya saing tinggi, mata rantai yang baik sehingga biaya logistik bisa dibawah 20%.

Pasalnya, saat ini biaya logistik Malaysia dan Thailand sudah dibawah 15%. Oleh karena itu, regulator, swasta dan industri harus kerja keras apalagi 2020 era industri 4.0 akan dimulai. “Biaya logistik untuk 2018 mencapai 23,7% diperkirakan sampai akhir tahun ini 22,3%,” terangnya.

Suppy chain merupakan sistem yang saling bergantung dan melibatkan beberapa hal yaitu seluruh pemikiran berantai, tenaga kerja, minyak dan energi alternatif, transportasi, logistik, keuangan dan sistem pembiayaan, proses bisnis, sistem transaksi, teknologi informasi.

Ini juga terkait dengan pembelian, manajemen rantai pasokan, kekuatan komersial, sistem hukum dan peraturan, manusia dan jejaring , investasi aset strategis dan yang terakhir adalah ekonomi geo politik.

Adapun, Revolusi industri 4.0 adalah industri generasi keempat yang telah dibuatkan peta jalan (road map) oleh pemerintah dalam rangka menuju Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia pada 2030.

Hal tersebut akan diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi berbasis digital yang menjadikan proses operasional kerja dan layanan pelanggan lebih murah, mudah dan berdaya saing. Ini seperti ditunjukan dengan berkembangnya bisnis berbasis online yang maju pesat sehingga mampu mengundang investor korporasi besar dunia untuk berinvestasi, khusunya di sektor layanan ransportasi daring.

Sebagai model bisnis pada era internet dapat era internet dapat digambarkan dari bookstore ke e-book, dari yellow pages ke market-place, dari record store ke streaming, dari taxi ke ride-sharing.

Saat ini terdapat 4 negara yang menempati top commerce diantaraya Meksiko, dengan pertumbuhan 59% per tahun, pengeluaran untuk online shopping US$ 16,22 miliar hingga Indonesia dengan pertumbuhan 78% per tahun, dengan pengeluaran untuk shopping US$ 7,62  miliar.


https://koran.bisnis.com/read/20191021/450/1161235/daya-saing-logistik-inefisiensi-harus-bisa-dipangkas

Share this Post: