Direct Call Dapat Tingkatkan Daya Saing Indonesia

Direct Call Dapat Tingkatkan Daya Saing Indonesia

Pengamat Kemaritiman Saut Gurning menilai direct call (kapal kontainer) ukuran 5000-10.000 TEUs dari pelabuhan Indonesia (Tanjung Priok) tujuan ke berbagai negara (Amerika atau Eropa, serta Asia) dapat meningkatkan daya saing produk nasional di pasar internasional hingga 15-20%.

“Peningkatan daya saing itu, didapat dari penghematan biaya pelayaran, karena kapal yang digunakan untuk mengangkut barang tidak perlu singgah dulu ke negara lain seperti Singapura dan Malaysia sebelum ke Indonesia. Namun bila jasa logistik perdagangan lewat laut dari dan ke Indonesia dalam konteks perdagangan nasional, saya kira akan meningkatkan daya saing produk nasional di pasar internasional paling tidak 15-20%, yang didapat dari substitusi biaya singgah (transhipment) berbagai perdagangan internasional kita lewat Singapura dan Malaysia,” kata Saut dari ITS Surabaya ini.

Menurut Saut, Potensi efektivitas, kemudahan ke pasar negara tujuan khususnya ke berbagai wilayah China, Jepang, Korea, Eropa, Timur Tengah dan berbagai negara Amerika Utara sangat baik. Hal ini sekaligus mendongkrak efisiensi biaya dan waktu logistik perdagangan internasional kita tanpa harus tergantung pada kegiatan singgah (transhipment) di Singapura dan Malaysia,” ujar Saut.


Presiden Jokowi saat melepas direct call dari Priok tujuan Amerika Serikat, beberapa bulan lalu. (ist)

Seperti diketahui bahwa Direct Call tersebut sudah dilakukan di pelabuhan Tanjung Priok tujuan Amerika Serikat, menggunaan kapal CMA CGM. Presiden Jokowi pun menyempatkan melepas kapal dengan kapasitas 10.000 TEUs dari dermaga JICT beberapa bulan lalu.

Dan Pelindo II pun terus dan terus berupaya untuk bagaimana direct call bisa berlangsung. Bahkan menurut Prasetyadi, Direktur Operasional PT Pelindo II, perseroan selalu berusaha agar petikemas-petikemas dari wilayah pelabuhan Indonesia II yang akan diekspor ke negara luar, transhipment ke Tanjung Priok.

“Kontainer-kontainer yang ekspor dan dikapalkan lewat pelabuhan Panjang, Palembang, Pontianak, Teluk Bayur, kami upayakan masuk ke Priok, untuk dikapalkan lanjut dari sini (Priok-red), bukan lagi transhipment di Singapura,” kata Prasetyadi kepada Ocean Week, di ruang kerjanya.

Perseroan juga sedang mendekati cargo owners di wilayah Cirebon, supaya hasil produksinya bisa dikapalkan melalui pelabuhan Cirebon, transhipment di Priok, dan kemudian lanjut ke negara tujuan.

Beberapa kalangan industri mengaku tidak keberatan dengan pola tersebut. Ketua Umum Asosiasi meubel Sunoto kepada Ocean Week pernah menyatakan ketidakberatannya itu. “Kami mau saja pengapalan langsung, tapi apakah ada kapal yang reguler melayani,” ungkapnya.

Volume petikemas ekspor dari wilayah Cirebon cukup besar,s ekitar 5.000 box per bulan. Selama ini dikapalkan melalui pelabuhan Priok, namun untuk menuju ke Jakarta diangkut menggunakan truk. “Kalau Pelindo ada program pengapalan dari Cirebon ya bagus,” ungkap Sunoto.

Sementara itu, Asmari Herry, salah satu pengurus Kadin Indonesia yang juga Direktur Samudera Indonesia Shipping juga menyatakan, bagi pemilik barang, pengapalannya mau lewat pelabuhan mana tak masalah, dengan catatan, tarif bisa lebih murah jika dibandingkan harus transhipment di Singapura atau Malaysia. “Dan waktunya tepat. Pemilik barang kayaknya nggak mau tau, mau lewat pelabuhan mana, yang penting ongkosnya lebih kompetitif (syukur lebih murah) dibandingkan transhipment di Singapura atau Malaysia,” katanya.

Saut Gurning juga mengungkapkan, keuntungan lain yang diperoleh dari pelaku usaha dengan direct call adalah adanya penurunan biaya logistik sekitar 15-20% biaya perdagangan akibat kontribusi biaya pengapalan (dari dan ke Indonesia) serta biaya penanganan barang di pelabuhan (transhipment).

“Belum lagi waktu tempuh juga secara rasional akan menurun, paling tidak 2-3 hari lebih cepat. Akibat tidak dibutuhkannya kegiatan alih-muat (transhipment) kontainer/barang dari ke atas kapal di Singapura/Malaysia. Dengan catatan, pelabuhan nasional mampu secara komparabel mampu menghasilkan kinerja layanan kapal dan kontainer seperti yang dilakukan pelabuhan Singapura dan Malaysia,” katanya. (***)

http://oceanweek.co.id/direct-call-dapat-tingkatkan-daya-saing-indonesia/


Share this Post: